SENYUM WANITA PEMALU DI BALIK GELAS KOPI

   Suatu malam yang sunyi, Pemuda Kumal itu duduk sendiri di Warkop tempat biasa ia kunjungi untuk menghabiskan waktu kosongnya. Dinginya malam membuat ia meneguk dengan cepat kopi yang ia pesan sedari tadi pada barista. Ditengah lamunanya ia teringat akan wanita yang menyakiti hatinya yang entah sekarang tak jua ada kabar tentangnya, ia menghilang tak ada kabar.

     Namun ternyata malam itu ia teringat akan sesuatu janji yang telah ia buat bersama seorang wanita yang diam-diam telah mencuri perhatianya dan seakan mengisi kekosongan dalam kesendirian yang teramat pedih ini. Sesegera mungkin ia mengambil ponsel genggamnya dan nge chat si wanita itu, kring kring dia membalas chat dari si pemuda kumal itu, “iya, aku udah siap, datang jemput”.

            Si pemuda Kumal itu pun bergegas ke motornya dan meluncur dengan kecepatan penuh untuk menjemput si wanita ini, setelah tiba di lokasi penjemputan ia tak kunjung muncul. “ah, dasar wanita selalunya membuat menunggu” keluhnya dalam hati. Selang beberapa menit berlalu ia pun muncul saat itu pun aku terdiam ia bagaikan bidadari tak bersayap, pakaian khas seorang Muslimah yang menutup auratnya dan jilbab panjang yang selalu menlindungi mahkotanya jauh dari penampilan wanita kebanyakan, saat ku dekati ia melempar senyum manis pdaku dan berkata “maaf ya lama nunggu, sepupuku tadi lagi benerin pintu kamarnya”, aku “iya nggak papa, ayo naik”. Dan kamipun jalan ke warkop tadi.

           Dalam pejalanan pun sepi mulai menyelimuti kami kaku, canggung, dan malu. Aku pun berinisiatif untuk memecah keheningan itu, aku mulai bebricara ngoceh sana sini untuk membuat ia tertawa dan menghilangkan kecanggunganya.

         Saat kami tiba di warkop, ia pun kupersilahkan duduk persis di hadapanku. Aku bertanya mau pesan apa neng…? Ia pun menjawab “bisa tolong ambilin daftar menunya…” aku pun sigap pergi ke barista mengambilkan daftar menu, nih neng. Dia pun mengambilnya dan memilih-milih minuman, “aku taro aja ya” ok siap neng.

          Setelah aku memesankan ya pada barista, aku pun kembali duduk dan kembali memandangi wajahnya yang begitu cantik malam itu, yaa namanya Aisyah berparas Cantik, baik, dan pemalu. Baginya keluar malam itu sesuatu yang tidak biasa baginya, namun entah kenapa malam ini ia duduk di hadapanku, aku bagaikan mimpi malam ini. Sedang aku adalah seorang Pemuda Kumal, gondrong, dengan brewok dan selalu bau asap tembakau dan namaku adalah Reoza.

          Kamipun mulai bercerita memecah keheningan yang sempat singgah di meja kami, malam itu aku sangat bahagia. Kesedihan yang sempat membelengguku seakan hilang pada malam itu, digantikan oleh taman bunga yang begitu indah wangi smerbak dan damai.

          Kami mulai bercerita, kesana kemari pembahasan yang kami ciptakan malam itu. Entah kenapa sangat lepas saya bercerita padanya, tentang pengalaman, kisah cinta, dan niatan untuk hijrah ke jalan yang lebih baik untuk memeusnahkan kebiasaan buruk ku. Dia pun seperti itu, dari pengalaman sampai judulnya yang selalu dip hp oleh dosenya karena janji untuk konsul tak kunjung terealisasi. Aku pun sempat menawarkan diri untuk menemaninya saat pergi konsul nanti, dan ia pun bertanya “emang nggak repotin bang…?’’ akun pun menjawab “tidak kok, malah senang bisa nemenin kamu, buat jadi motivasi juga biar cepat wisuda kaya neng”.

         Dan cerita malam itu pun kembali berlanjut, sesekali dia tersipu malu saat kupandangi matanya yang menggambarkan kedamaian yang tersirat dari sorot matanya. Kupandangi dari balik gelas kopi, senyumnya mengalahkan pekat pahitnya kopiku malam itu. Ia bagaikan penawar racun yang hadir saat peradangan hati ini begitu merjalela menganiayaku dalam sunyi.

                    Saat aku kembali kusulut api ke rokokku, dia pun bertanya “bang, gimana keluhan yang abang alami setiap merokok itu”, aku pun mnejawabnya “yah biasa, hanya saja saat merokok kalau nggak minum kopi kayak gini pasti bawaanya pengen muntah aja neng”. Aisyah “ abang kalau gitu kurangin aja merokoknya”, aku “iya siap neng, nanti di kurangin merokoknya”, sambil kubalas dengan senyum semanis mungkin.

                   Malam yang indah itu, kami lalui dengan senyum dan tawa saat kami asyik bercerita dan bertukar pengalaman kami masing-masing. Aku pun sempat berpikir, mengapa saat akhir semester seperti ini kami di pertemuka namun aku percaya bahwa sang pemilik semesta sedang memainkan skenarionya.

                 Dan jam pun menunjukkan pukul 23:35 WIB, seakan waktu kembali merampas kebahagiaan dan kedamaianku bersamanya. Aku tak rela senyum manis nya yang pemalu itu hilang dari pandanganku, seakan waktu dan semesta begitu cepat merampasnya dariku. Namun aku cukup paham dengan keadaanya dan kebiasaanya serta batasan-batasan agama yang ia pegang teguh.

Setelah menyelesaikan pembayaranya kami pun beranjak pergi meninggalkan warkop itu, ditengan perjalanan kami masih melanjutkan cerita kami. Seakan mendapatkan kode akan pintu yang terbuka lebar bagiku, niatan untuk hijrah pun kembali menguat. Karena seraong lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, prinsip itu yang kupegang teguh sekarang ini dan mulai malam itu.

                Setibanya di tempat tujuan ia pun turun, dan mengucapkan terimakasih atas traktiranya malam itu, dan akupun membalasnya dengan senyum semanis mungkin. Dan satu pesan sebeblum ia pergi menghilang dari pandanganku malam itu “rokoknya dikurangin ya bang”.

 

CORETAN CEMARA ANGIN


Komentar