KONSPIRASI KOPI DAN CERUTU
Malam
ini, aku kembali duduk bersama teman-teman seperjuangan dan di tempat nongkrong
biasa yaitu di warkop tempat kami berkumpul. Dan seperti malam-malam sebelumnya
nikmat kopi yang di seruput yang selalu membawa tubuh ini dan tubuh setiap
insan manusia mengendarai malam yang telah lelap, dengan kerlap kerlip bintang
di langit malam itu. Tak cukup jika hanya kopi, teman setianya adalah cerutu
yang selalu kuhisap lalu kuhembuskan lagi, yang jelas membuatku candu akan kedua
hal itu. Yaa semua candu akan hal itu, namun ada sebagian pula yang tak
menyukai hal itu. Ketika kopi dan cerutu bersatu padu dan membaur dalam tubuh
ini, selalu membawa pikiran ini jadi berpikir tajam dan membuat pikiran-pikiran
liar datang menghampiri logika ini. Kata orang warkop itu tempat berkumpulnya
para orang-orag intelektual berdiskusi dan membahas hal-hal penting seputar
Bangsa ini. Dan itu memang pernah terjadi namun setelah orde lama dan orde baru
telah usai para pemuda kebanyakan apatis untuk memikirkan kemajuan bangsa ini.
Para aktivis dan orator yang telah mati-matian memperjuangkan untuk kemerdekaan
bangsa ini yang sudah tinggal nama, yang ketika itu berjuang untuk mengusir
para penjajah dan menghilangkan penindasan di bumi pertiwi ini, dan
memperjuangkan hak-hak rakyat yang selalu di tindak oleh para kaum imperialisme
dan kapitalisme, serta menggulingkan rezim Soeharto yang di anggap otoriter
pada saat itu. Dan para penghianat dari prjuangan revolusioner dianggap sebagai
orang-orang yang melakukan “dosa revolusioner”. Para pejuang kala itu berjuang
dengan mempertahankan idalisme mereka dan atas dasar nilai humanisme dalam
setiap perjuangan mereka berharap agar tak terulang lagi hal seperti ini
kedepanya. Agar anak cucu mereka tak mersakan hal sepedih ini. Namu espektasi
para pahlawan kita dulu berbanding terbalik bahkan jauh dari harapan mereka
kala itu.
Pemuda saat ini yang telah menyebut diri mereka sebagai aktivis dan
orator yang katanya memperjuangkan hak rakyat untuk menumbangkan rezim yang
otoriter, rezim yang tak pro rakkyat, dengan menggaungkan suara yang lantang di
jalanan bak singa yang sedang mengamuk. Jalanan di blockade dengan kata-kata
petaka yang sangat pedas, cukup untuk
membakar jenggot para pemimpin otoriter dan korup itu. Lagu-lagu perjuangan
dikumandangkan, bendera-bendera dari tiap-tiap organisasi ataupun golongan di
kibarkan seakan mengajak perang pada orang yang di anggap menjadi virus dalam
negri sendiri. Namun dibelakang itu semua ternyata sudah ada tuntutan kursi yang
ingin di duduki, mereka sudah
bersekongkol dengan para pengkhianat itu. Setelah lelah berkoar-koar di jalanan
mereka datang dan duduk bersama sambil menikmati kopi dan cerutu sambil
membicarakan posisi mana yang akan mereka duduki sesuai pemberian dari pejabat
yang korup itu. Pengkhianat seperti inilah bak sperti anjing yang telah haus
habis menggonggong dan stetelah itu di kasi minum oleh majikanya, atau seperti
bibir yang telah kering habis bersua di jalanan dan setelah itu minta di beri
lipstick mahal dari sang majikan.
Sungguh ironi pemuda sekarang, dengan mudah idealisme mereka gadaikan
sementara Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda ucap
Tan Malaka saat itu dan perjuangan mereka bukan lagi berdasarkan atas dasar
nilai humanisme namun atas dasar nilai untung rugi yang akan mereka dapatkan
setelahnya. Dan ini sungguh berbanding terbalik dengan para pahlawan yang
dahulu, “dosa revolusioner” itu seakan menjadi tambang emas untuk meraup
keuntungan bagi mereka sang pelaku pendosa itu. Jangan terlena dan terbuai dari
apa yang mereka lakukan sekarang ini.
Bangkitlah pemuda, jangan kau gadaikan idealisme mu hanya karena di ukur
dengan nilai nominal uang yang tertera di atas se helai kertas itu. Bangun dari
keterpurukan itu, dan perbaiki mental bejat itu, agar kita dapat melihat senyum
manis dari anak-anak miskin di kolong-kolong jembatan sana. Agar tak ada lagi
kemiskinan yang merajalela di bangsa yang katanya kaya ini, sebuah Negara
merdeka berarti harus dibarengi dengan kesejahteraan rakyatnya. Negara yang
telah merdeka berarti rakyatnya pun harus sejahtera, karena jika di telaah makna
dari sebuah kemerdekaan berarti kata kesejahteraan itu pun harus melekat di
dalamnya. Kata sejahtera itu bukan hanya terpenuhinya suatu kebebasan dari para
penjajah itu, namun dalam suatu Negara yang sudah merdeka berarti kata
sejahtera itu pun ikut melekat, dengan terpenuhinya sandang, pangan, papan,
pendidkan, dan kesehatan mereka. Jika sudah terpenuhi itu maka sebuah negara
yang katanya sudah merdeka bukan lagi hanya sebuah nama melainkan seacara
procedural ataupun secara nyata memang sudah terpenuhi.
Dan kita sebagai seorang calon penerus Bangsa yang akan memegang tongkat
estafet kekuasaan di masa depan nanti, kita tak pantas mati diatas tempat tidur
ucap Soe Hok Gie. Keluarlah dari zona nyaman mu dan buat terobosan baru bagi
seorang kaum intelektual yang dinamakan pemuda kala itu dan nama itu sekarang
telah menjelma menjadi kata Mahasiswa yang sangat tinggi maknanya. Kembalikanlah
Marwah Mahasiswa itu kembali harum bak bunga mawar yang baru mekar di musim
semi, kembangkanlah ide-ide liar mu dan implementasikan semua itu. Jangan kau
jadikan pemikiran genius mu, ide-ide liar serta pemikiran radikal mu hanya pada
sebatas pada alunan kata yang kau balut dengan kata-kata retorika yang indah
dan menyentuh pada saat di dengar tanpa ada sebuah tindakan yang nyata oleh mu.
Tindakan nyata yang diperlukan darimu wahai sang pemuda karena bangsa ini
memerlukan sebuah RESOLUSI darimu wahai pejuang.Bangkitlah Mahasiswa,
Bangkitlah Pemuda/Pemudi Bangsa Indonesia. HIDUP RAKYAT…HIDUP RAKYAT…HIDUP
RAKYAT…HIDUP MAHASISWA…JAYALAH BANGSAKU, BANGSA INDONESIA…!!!
Jangan lupa seruput Kopi mu anak
Muda…!!!
CoretanCemaraAngin
Komentar
Posting Komentar